Di jantung Sulawesi Tengah, di antara bukit hijau dan sungai yang tenang, dulu berdiri sebuah kota kecil yang damai bernama Poso. Dahulu, wilayah ini dikenal sebagai tempat masyarakat Muslim dan Kristen hidup berdampingan dalam harmoni. Namun, di akhir tahun 1990-an, kedamaian itu hancur berantakan. Tragedi kemanusiaan berdarah meletus, menelan ribuan korban, dan meninggalkan luka yang belum sepenuhnya sembuh hingga hari ini.
"how?" Dewi asked, looking at the flowing water. "The fear was so loud."
Apakah ada topik spesifik di atas yang ingin Anda bahas lebih detail? Video Tragedi Poso 1998
While the broader Poso conflict spanned from 1998 to 2001, it began on the night of December 24, 1998. What started as a localized brawl between youths of different religious backgrounds in the town of Poso quickly spiraled out of control.
: Jatuhnya rezim Orde Baru pada Mei 1998 menyisakan kekosongan kekuasaan dan melemahnya aparat keamanan. Ketidakpastian politik di tingkat lokal, termasuk persaingan perebutan jabatan bupati, turut memperkeruh polarisasi di masyarakat. Di jantung Sulawesi Tengah, di antara bukit hijau
Kebijakan transmigrasi nasional membawa arus pendatang dari Jawa, Lombok, Bali, dan Bugis ke wilayah Sulawesi Tengah. Hal ini mengubah komposisi penduduk asli.
Mengenal Kembali Tragedi Poso 1998: Akar Konflik dan Dampak Sosial While the broader Poso conflict spanned from 1998
Melihat situasi yang semakin tak terkendali, pemerintah pusat turun tangan. Ribuan aparat TNI dan Polri dikerahkan ke Poso. Puncaknya, pada Desember 2001, pemerintah menginisiasi “Deklarasi Malino” — sebuah perjanjian damai yang diadakan di Malino, Sulawesi Selatan. Dalam forum ini, tokoh Muslim dan Kristen Poso duduk bersama, difasilitasi oleh Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Jusuf Kalla.